Kejarlah Utang Sampai ke Negeri Seberang
Kalau dulu pepatah mengatakan “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, yang berlaku sekarang adalah “kejarlah utang sampai ke China”— sampai ke negeri seberang.
Baca
Trust Lebih Penting daripada Angka, Dengarkan Juga Nasihat SBY
Jika pasar melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan komunikasi pemerintah yang kredibel, maka kepercayaan lambat laun akan pulih.
Baca
Akankah Krisis Nilai Tukar 1997 Terulang?
Ketika dolar mencapai titik kritis pertama, Rp20.000 per dolar AS, dan kepercayaan investor belum pulih, tekanan rupiah menuju Rp22.000 bisa bergulir lebih cepat. Sementara itu, ekonomi dalam kondisi distressed. Inflasi naik, Suku bunga naik, daya beli turun. Tingkat pengangguran naik.
Baca
AI, Terobosan yang Bakal Jadi Monster Jika Telat Diregulasi
Sebuah penelitian ilmiah menunjukkan optimasi AI dalam industri justru akan membunuh perekonomian. Pengembang AI mengaku tengah "menciptakan monster", menciptakan tantangan bagi pemerintah untuk segera menciptakan regulasi untuk mengekangnya.
Baca
Hak Bicara dengan Mesin
"AI for All" tidak boleh sekadar jargon seminar. Ia adalah pilihan. Harus dieksekusi sadar. Pertanyaannya bukan lagi apakah mesin bisa bernalar. Pertanyaannya, siapa yang boleh ikut berbicara dengannya. Jawabannya, kalau kita mau, adalah semua orang.
Baca
Paradoks Kafe Estetik (3): Gelar Sarjana dan Sertifikasi Tak Jamin Kesejahteraan
Serial artikel mengenai kesejahteraan pekerja kafe di Tulungagung dengan pendekatan jurnalisme data berbasis survei mandiri (Metode Snowball Sampling, N=32 responden valid) yang dilakukan pertengahan April hingga Mei 2026 di kawasan perkotaan dan lingkungan kampus.
Baca
Paradoks Kafe Estetik (2): Ketika Barista Merangkap Kasir hingga Tukang Listrik
Serial artikel mengenai kesejahteraan pekerja kafe di Tulungagung dengan pendekatan jurnalisme data berbasis survei mandiri (Metode Snowball Sampling, N=32 responden valid) yang dilakukan pertengahan April hingga Mei 2026 di kawasan perkotaan dan lingkungan kampus.
Baca
Mengapa & Bagaimana Habibie Mengubah Kurs Rupiah dari 16.800 ke 6.500?
Episentrum krisis dahsyat 1998 justru ada di Jalan Thamrin, yakni Bank Indonesia (BI) di mana kapitalisme kroni berjalan bersamaan dengan kebijakan BI. Lembaga ini menjadi alat oligarkis untuk mengambil rente ekonomi.
Baca
Museum Marsinah, Monumen Tanpa Keadilan Berbalut Rekonsiliasi
Pembangunan museum Marsinah tanpa mengejar keadilan bagi Marsinah justru menjadi ironi yang menyayat hati. Negara seolah lebih memilih membangun bangunan formal, ketimbang meruntuhkan tembok impunitas.
Baca
Kisah Zhou Qunfei, Anak Desa yang Nyaris Tak Punya Masa Depan
Namanya: Zhou Qunfei, pendiri Lens Technology. Banyak orang di luar China mungkin baru mendengar namanya saat itu. Padahal, setiap kali orang memegang layar mobil pintar modern, kemungkinan besar mereka sedang menyentuh kaca buatan perusahaannya.
Baca
Mewujudkan Negara Agung, dari Mana Memulainya?
Saya jadi ingat Gunung Semeru. Walau tinggi, gunung itu dibentuk oleh pasir. Kenapa lumpur Lapindo tidak memunculkan gunung? Karena lemah, lunglai sehingga setiap kemunculan pemimpin selalu longsor ke bawah.
Baca
Refleksi Harkitnas: Masih Relevankah Nilai Kebangkitan Saat Ini?
Selalu hidup sederhana, berikan lebih dari kecukupan untuk sesama, jangan mengagumi orang kaya yang layak dicurigai hasil kekayaannya dari mencuri, baik dengan cara legal maupun ilegal.
Baca